Membaca Kembali; Teologi Feminisme dalam Kajian Agama-Agama

   Segala sesuatu yang berlawanan dengan kesederajatan harus dibongkar adalah prinsip utama dari pemikiran mengapa teologi feminisme perlu ada. Selain ingin menggali kembali gambaran tentang Tuhan dengan seluruh teks-teks yang telah Tuhan tulis di bumi-Nya, berupa kitab suci, manusia, alam, dan seluruh makhluk ciptannya, juga untuk memperjelas potret buram kemanusiaan berupa penindasan terhadap perempuan walaupun disisi lain perwujudan dari teologi feminisme sudah ada sebelum istilah feminisme itu terlahir.
   
   Para sebagian teolog feminis berpendapat bahwa feminisme tak lepas dari bias gender. Ini dikarenakan budaya patriarki yang menganggap bahwa wanita hanyalah warga nomer dua telah mendarah daging sebelum agama-agama lahir[1]. Bisa jadi, itulah kenapa sampai hari ini usaha-usaha yang dilakukan oleh setiap agama untuk mencegah terjadinya sebuah penyelewengan gender masih kurang efektif.

Di Angkringan Kota


 
Aku sibuk dengan gitarku
Kau sibuk dengan bonekamu
Entah, kita sama-sama bersama
Dalam keadaan yang berbeda

Kau mencumbui bonekamu
Aku mencumbui gitarku
Kita sama-sama bercumbu
Dalam keadaan bersenang-berharu

Aku pinta benalu
Kau beri aku haru
Kau pinta aku
Aku beri kamu

Ketika kau sakit
Aku sedang merakit
Ketika aku terhimpit
Kau sedang berbait-bait

Ah.. manusia, kau begitu membingungkan.

Malang, 19-04-2013

Mabuk Tuhan

Aku adalah abadi
Aku abadi dalam keabadian pagi
Aku abadi dalam keabadian siang
Aku abadi dalam keabadian malam

Tuhan..
Aku ingin menggurui-Mu tentang malam
Aku ingin menesehati-Mu tentang kekekalan
Aku ingin menjadikan Engkau budak malam gelap

Tapi apalah dayaku..

Aku adalah makhluk-Mu
Aku adalah manusia-Mu
Aku adalah tabiat-Mu
Aku adalah sifat-Mu
Aku adalah wajah-Mu
Aku adalah kelakuan-Mu
Aku adalah hakikat-Mu
Aku adalah pikiran-Mu
Aku adalah mata-Mu
Aku adalah rasa-Mu
Aku adalah mulut-Mu
Aku adalah hati-Mu
Aku adalah kekekalan-Mu
Aku adalah kefanaan-Mu

Berilah hamba waktu untuk berpisah dengan-Mu,
Untuk bermain-main dengan selain diri-Mu.
Menghamba kepada pagi
Menghamba kepada malam
Untuk menyelami kedalaman yang dalam
Untuk menyelami ketiadaan dan keberadaan-Mu
Dengan pena dan kertasku
Dengan hati dan pikiranku
Untuk bertemu dengan keberadaan-Mu.

Malang, tanggal 13 bulan April tahun 2013
Ketika "Mabuk Tuhan"

Pada Malam Ini

     Malam tanggal 14 bulan April tahun 2013 aku menulis. Menulis sebuah tulisan dimana aku menajukkan diri dengan sebagai objek tulisanku sendiri. Bersama kesendirianku pada malam ini. Aku mengalahkan sunyi, mengalahkan detak gemericik detiknya, dan detiknya yang aku lenyapkan dari waktu.
     Pada malam ini, entah apa yang aku pikirkan, aku merasa kebersamaanku dengan malam adalah sebuah keterasingan hidup. Hidup yang mengasingkan diri dari gemuruh hiruk-pikuk pikiran, bukan desa, bukan pula kota. Aku terjerembab dalam liang kebutaanku pada malam, pada teriknya lampu latar berwarna kekuning-kuningan. Sejenak aku matikan lampu itu untuk aku semakin yakin bahwa aku berada pada petang. Gelap gulita. Tak berwarna. Hanya hitam, kamut.

Dalam Malam

Dalam malam,
Aku memalamkan tubuhmu
dalam kegelapan malam,
dan malam yang gelap.

Malam-mu, me-malamkan aku.
Dengan semalam-malamnya.
Tanpa tahu, bahwa itu adalah setengah malam.
Bukan malam penuh.

Malam ini melelahkan
Karena sampai malam ini, engkau masih saja menganggap ini "Siang".

Malang, 06 April 2013

 
Al_Mutahawwil © 2010 | Designed by Trucks, in collaboration with MW3, Broadway Tickets, and Distubed Tour