Para sebagian teolog feminis berpendapat bahwa feminisme tak lepas dari bias gender. Ini dikarenakan budaya patriarki yang menganggap bahwa wanita hanyalah warga nomer dua telah mendarah daging sebelum agama-agama lahir[1]. Bisa jadi, itulah kenapa sampai hari ini usaha-usaha yang dilakukan oleh setiap agama untuk mencegah terjadinya sebuah penyelewengan gender masih kurang efektif.
Membaca Kembali; Teologi Feminisme dalam Kajian Agama-Agama
Para sebagian teolog feminis berpendapat bahwa feminisme tak lepas dari bias gender. Ini dikarenakan budaya patriarki yang menganggap bahwa wanita hanyalah warga nomer dua telah mendarah daging sebelum agama-agama lahir[1]. Bisa jadi, itulah kenapa sampai hari ini usaha-usaha yang dilakukan oleh setiap agama untuk mencegah terjadinya sebuah penyelewengan gender masih kurang efektif.
Di Angkringan Kota
Mabuk Tuhan
Aku adalah abadi
Aku abadi dalam keabadian pagi
Aku abadi dalam keabadian siang
Aku abadi dalam keabadian malam
Tuhan..
Aku ingin menggurui-Mu tentang malam
Aku ingin menesehati-Mu tentang kekekalan
Aku ingin menjadikan Engkau budak malam gelap
Tapi apalah dayaku..
Aku adalah makhluk-Mu
Aku adalah manusia-Mu
Aku adalah tabiat-Mu
Aku adalah sifat-Mu
Aku adalah wajah-Mu
Aku adalah kelakuan-Mu
Aku adalah hakikat-Mu
Aku adalah pikiran-Mu
Aku adalah mata-Mu
Aku adalah rasa-Mu
Aku adalah mulut-Mu
Aku adalah hati-Mu
Aku adalah kekekalan-Mu
Aku adalah kefanaan-Mu
Berilah hamba waktu untuk berpisah dengan-Mu,
Untuk bermain-main dengan selain diri-Mu.
Menghamba kepada pagi
Menghamba kepada malam
Untuk menyelami kedalaman yang dalam
Untuk menyelami ketiadaan dan keberadaan-Mu
Dengan pena dan kertasku
Dengan hati dan pikiranku
Untuk bertemu dengan keberadaan-Mu.
Malang, tanggal 13 bulan April tahun 2013
Ketika "Mabuk Tuhan"
Pada Malam Ini
Pada malam ini, entah apa yang aku pikirkan, aku merasa kebersamaanku dengan malam adalah sebuah keterasingan hidup. Hidup yang mengasingkan diri dari gemuruh hiruk-pikuk pikiran, bukan desa, bukan pula kota. Aku terjerembab dalam liang kebutaanku pada malam, pada teriknya lampu latar berwarna kekuning-kuningan. Sejenak aku matikan lampu itu untuk aku semakin yakin bahwa aku berada pada petang. Gelap gulita. Tak berwarna. Hanya hitam, kamut.
Dalam Malam
Dalam malam,
Aku memalamkan tubuhmu
dalam kegelapan malam,
dan malam yang gelap.
Malam-mu, me-malamkan aku.
Dengan semalam-malamnya.
Tanpa tahu, bahwa itu adalah setengah malam.
Bukan malam penuh.
Malam ini melelahkan
Karena sampai malam ini, engkau masih saja menganggap ini "Siang".
Malang, 06 April 2013



