Label:
Antologi Puisi
Wahai Malam, aku mengagumimu karena kau “adalah”
Dalam bahasa yang berbeda, yang tak sampai aku pahami
Biarlah apa menjadi mengapa
Karena dimana dan kapan adalah kebenaran.
Label:
Jepret Mania


Camp in Bromo
![]() |
| Tepaat di Atas Kawah Gunung Bromo, sempat terlelap sekitar 5 menit, kemudian Gunung Bromo menyapa kita, sehingga saya bersama teman-teman lari terbirit-birit, hehehe...!! |
![]() |
| Kawah Gunung Bromo,pasca Merapi Bromo..!! |
![]() |
| Lumayaaanlaah, bisa bertemu dengan sahabat-sahabat Mancanegara,qiqiqiq...!! ;) |
![]() |
| Bromo Tampak dari kejauhan |


| Bersama Teman-temen se UIN Malang dari berbagai jurusan |
![]() |
| Sembari Menikmati Energen Rasa Coklat, hehehe...!! |
Label:
Resensi Buku
Maryamah Karpov; Cerita Kaya Renungan
Sinopsis
"Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini; sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadap gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani."
Label:
Antologi Puisi
Malam Pesing
Garis edar bulan mengernyit
Suing jala-jala roda meledak-ledak
Petuah jalan menggernyit, bungkam!
Suntuk, menggelegar dada,
Rencana berpikir hilang seketika
Hanya suntuk menjadi teman terbaik,
Saat itu.
Label:
Antologi Puisi
Seraup Bisu
Andai, percikan api bisa mengubah sebuah kebisuan.
Rumpun air tak akan membiaskannya.
Andai, gelombang ombak mengubah sebuah kebisuan.
Pula karang tak akan berdenting.
Sibuk, menampakkan kebisuan
Sembari melepas pengap suara gendang telinga
Kesepian...!!
Suara semakin membungkam,
Batasan-pun terhempas jauh menjauh kenegeri seberang
Sudah menunggu ajal yang akan menjemputnya,
Entah, kapan...
Kau, masih kian membisu....!!
_________________________
Malang, 15/06/2011
Ibn. Rusyd
Kenikmatan yang Sesaat
Judul : Neraka Dunia
Pengarang : Nur Sutan Iskandar
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan : V. 2000
Tebal Halaman : 166 halaman
Saya Kagum setelah membaca buku ini (Neraka Dunia), dan menyambut baik kreativitas Bapak Nur Sutan Iskandar yang mengarang buku ini.
Menurut penulis muda asal Yogyakarta Ahmad Badrus Sholihin, makna yang terkandung dalam buku ini sangatlah indah, dan perlu dihayati dalam setiap kalimat maupun kata-kata yang terdapat pada setiap bab, karena bisa menjadi suatu introspeksi diri atau perbaikan diri bagi orang yang membacanya khususnya kalangan muda/pelajar seperti kita.
Label:
Antologi Puisi
Aku dan Siapa...??
Aku
Aku tak tahu harus dimulai dari mana?
Perbincangan tentang aku ini.
Aku seakan tak aku.
Aku bertanya kepada aku, ”Untuk apa aku dihidupkan dalam diriku aku?”
Aku pun menjawabnya, ”Kau diciptakan agar aku bisa menjadi aku yang sebenarnya.”
Aku menyanggahnya, ”Tapi, kenapa aku sampai sekarang tak menjadi aku?”
Aku pun menjawabnya, ”Karena kau tak merasa menjadi aku sebenarnya.
Aku pun menjawabnya, ”Kau diciptakan agar aku bisa menjadi aku yang sebenarnya.”
Aku menyanggahnya, ”Tapi, kenapa aku sampai sekarang tak menjadi aku?”
Aku pun menjawabnya, ”Karena kau tak merasa menjadi aku sebenarnya.
Wahai aku, sampai kapan engkau tak ada?
Apa aku harus menunggumu 1000 tahun lagi.
Pastinya itu tak akan, wahai aku.
Karena aku sangat meng-aku-kanmu.
Aku, kapan engkau meng-aku-kanku?
Aku sudah tak sabar lagi akan sampai ke aku-anmu.
Semua orang sudah meng-akukan dirinya sendiri.
Terus, aku harus bagaimana, wahai aku?
Aku tak bisa berpikir tanpa aku-mu disemakku.
Aku akan sedar, wahai aku
Aku-ku telah hilang ditelan kedamaian aku-mu.
Hingga waktu akan meng-akukanmu.
Dan aku telah tiada.
_____________________
Malang, 29 Maret 2011
Al_Faqier 93, 0.59 WIB
Label:
Antologi Puisi
Sikap itu...
Setelah menyimak Diantara Bidadari-bidadari
Aku terlelap berabad-abad
Tercebur dikesunyian Ombak-ombak
Bermimpi diselaksa Tengkorak-tengkorak
Berdansa di Hutan Mimpi-mimpi
Barangkali Aku Menunggu Pergulatan
Atau Diam-diam Malah menyongsongnya
Takterpikir Kalah atau Menang
Karena masih di rundung kabut kebekuan
Debur cemas membangunkanku
Bergema diseluruh Ruangan Jiwa
Dan ketika mataku terbika sempurna
Akupun berDo’a
Agar Aku terlahir lagi Dengan
Bermata Buta
Bertelinga Tuli
Bermulut Bisu
Bernafas Dungu
Yang tak Mampu lagi Mengeja huruf dan Sandi-sandi
Yang kau Tebar di segala Penjuru Mata Hati
Semoga Tuhan meloloskan Aku dalam pertarungan menghadapi musuh yang ku ciptakan sendiri.
_____________________
Malang, 26 Maret 2011
Ibn. Rusyd
Label:
Artikel Pengetahuan
Ahmadiyah
1. Dasar Pemikiran.
Ahmadiyah lahir sebagai sebuah gerakan keagamaan di India pada paruh akhir abad 19 M. Faktor yang sangat memotivasi munculnya aliran ini adalah kemunduran umat Islam di India pada bidang agama, politik, ekonomi, sosial dan bidang kehidupan kehidupan lainnya, terutama pasca pecahnya revolusi India 1857 yang berakhir dengan kemenangan Inggris, sehingga India dijadikan sebagai salah satu Negara koloni Inggris yang terpenting di kawasan asia1.
Sebagai sekte, Ahmadiyah merupakan gerakan keagamaan yang dipimpin oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) di Qadian, Punjab, India. Karena beberapa doktrinnya, gerakan yang lahir tepatnya tahun 1889 ini di kalangan muslim sunni ortodoks, dianggap menyimpang dari ajaran Islam sebenarnya. Oleh kalangan yang kontra dengan Ahmadiyah dilabeli sebagai aliran sesat dan menyesatkan.
Beberapa ajaran yang dituduhkan dan dianggap menyimpang di antaranya ialah; Meyakini bahwa Mirza Ghulam adalah al-masih yang dijanjikan; Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur, mendengkur, menulis dan menyetempel, melakukan kesalahan, dan berjimak; Keyakinan bahwa Tuhan adalah berbangsa Inggris, karena Dia berbicara dengan mereka menggunakan bahasa Inggris; Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana al-Qur'an; Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk menaati pemerintah Inggris,
Label:
Antologi Puisi
Kasidah Maulid
Angin sampaikan salamku atasnya
Lewat deru nafasku yang tak jemu-jemu memulyakannya.
Air sampaikan juga salamku atasnya
Lewat deru ombakmu yang melentangkan suara gemuruh yang halus.
Tanah sampaikan juga salamku atasnya
dengan lambaian sentuhmu yang bisa menyenyakkan dia dalam tidurnya sekarang
Karena itulah kuasa yang kumiliki
Untuk membuktikan rasa yang cinta yang sangat mendalam
Dalam, yang aku sendiripun tak tahu sampai berapakah dalamnya
Wahai yang wahai.
Sungguh Esa Pencipta yang memberikan aku cinta yang begitu dan yang tak wajar ini
Tuhan semesta hati yang dirundung dalam cinta kasih nabi.
Sampaikan salamku atasnya.
Atas dan seluruh aku yang mengharap syafa’atnya....
_________________________
Alfaqier '93
Jember, 25 february 2010
Lewat deru nafasku yang tak jemu-jemu memulyakannya.
Air sampaikan juga salamku atasnya
Lewat deru ombakmu yang melentangkan suara gemuruh yang halus.
Tanah sampaikan juga salamku atasnya
dengan lambaian sentuhmu yang bisa menyenyakkan dia dalam tidurnya sekarang
Karena itulah kuasa yang kumiliki
Untuk membuktikan rasa yang cinta yang sangat mendalam
Dalam, yang aku sendiripun tak tahu sampai berapakah dalamnya
Wahai yang wahai.
Sungguh Esa Pencipta yang memberikan aku cinta yang begitu dan yang tak wajar ini
Tuhan semesta hati yang dirundung dalam cinta kasih nabi.
Sampaikan salamku atasnya.
Atas dan seluruh aku yang mengharap syafa’atnya....
_________________________
Alfaqier '93
Jember, 25 february 2010
Label:
Antologi Puisi
Wahai Nabi
Sungguh tak bisa dinilai dengan angka-angka,
dan kata-kata kemulyaanmu, wahai Nabi
Pohon yang sebelumnya berdiri dengan mengahnya,
terlalu takut untuk melampui deratmu, wahai Nabi
Cinta kaummu melepas kebisingan suara-suara syaithon
Yang mengelilingi gendang telinga mereka.
Gunung pun tertunduk malu, seraya berucap
"Aku tak lebih dari sebuah atom-atom tak ada apa-apanya jika dibanding dengan besar tinggi derajatmu, wahai Nabi. "
Tanah pun juga berucap. "Tubuhku sangat bahagia jika selalu ditapaki olehmu, Wahai Nabi."
Dan aku pun tak kalah berucap, "Wahai Nabi, aku tak tahu apa yang harus aku ucapkan terhadapmu."
_______________
Jember, 14 February 2011.
Al_Faqier '93
Label:
Antologi Puisi
Petualangan Hati
Tuhan, berlayar dengan segenggam tangan merintih kesakitan.
Bersama manusia putih - putih, yang kemudian dilambaikan dengan otot - otot syaraf menegangkan.
Seorang manusia berucap, "Akulah persenyawaan, dan kau adalah tubuh dari persenyawaan itu".
Apakah Tuhan bersemayam dalam dirinya?
Berhimpun melambaikan kata -kata okta tak berirama.
Dan, sungguh tragis si Dia, dia menangis tersedu-sedu dan menutupi dirinya dalam rasa kegundahan dan kesedihan.
--------------------------
Malang, 03 February 2010
Al Faqier '93
Bersama manusia putih - putih, yang kemudian dilambaikan dengan otot - otot syaraf menegangkan.
Seorang manusia berucap, "Akulah persenyawaan, dan kau adalah tubuh dari persenyawaan itu".
Apakah Tuhan bersemayam dalam dirinya?
Berhimpun melambaikan kata -kata okta tak berirama.
Dan, sungguh tragis si Dia, dia menangis tersedu-sedu dan menutupi dirinya dalam rasa kegundahan dan kesedihan.
--------------------------
Malang, 03 February 2010
Al Faqier '93
Label:
Antologi Puisi
Puisi Masaku
Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Sebuah surat cinta telah datang padaku
Dari bulan, sebuah karunia cahaya
Yang kata-katanya menambah keindahan,
Bagaikan bunga-bunga kebahagiaan.
Ia telah meringankan bebanku yang berat
Dan mengurangi penderitaanku,
Yang telah, wahai Nona, mematahkan hatiku
Antara belas kasihan dan kewaspadaan.
Wahai Nona, kau tahu cintaku yang besar
Dan kau tahu hasratku yang mendesak,
Mataku yang tak kenal tidur membara oleh cinta
Hatiku yang teronggok di atas kayu bakar,
Air mataku tak pernah berhenti mengalir
Dan api cintaku yang tak pernah padam,
Wahai, demi cinta suciku kepadamu,
Demi keinginanku yang sangat besar, aku katakan
Bahwa hatiku yang malang tak menyimpan cinta untuk siapa pun
Karena tertambat, sejak dikau pergi....
___________________________________
Jember, 19 Oktober 2010
Al-Faqier 93
Sebuah surat cinta telah datang padaku
Dari bulan, sebuah karunia cahaya
Yang kata-katanya menambah keindahan,
Bagaikan bunga-bunga kebahagiaan.
Ia telah meringankan bebanku yang berat
Dan mengurangi penderitaanku,
Yang telah, wahai Nona, mematahkan hatiku
Antara belas kasihan dan kewaspadaan.
Wahai Nona, kau tahu cintaku yang besar
Dan kau tahu hasratku yang mendesak,
Mataku yang tak kenal tidur membara oleh cinta
Hatiku yang teronggok di atas kayu bakar,
Air mataku tak pernah berhenti mengalir
Dan api cintaku yang tak pernah padam,
Wahai, demi cinta suciku kepadamu,
Demi keinginanku yang sangat besar, aku katakan
Bahwa hatiku yang malang tak menyimpan cinta untuk siapa pun
Karena tertambat, sejak dikau pergi....
___________________________________
Jember, 19 Oktober 2010
Al-Faqier 93
Label:
Resensi Buku
Kehidupan Baru (The New Life)
Sinopsis
Osman, seorang mahasiswa muda, terobsesi dengan sebuah buku magis yang membahas sifat dasar cinta dan hakikat diri. Dia mengabaikan rumah dan keluarganya, menelantarkan studinya, dan kemudian kelakukan pencarian makna rahasia-rahasia yang lebih misterius dari buku itu.
Separuh novel perjalanan, separuh dongeng thriller, The New Life adalah buku yang paling cepat terjual habis dalam sejarah Turki. Menampilkan seluruh kecerdasan dan keluwesan khas Pamuk, novel indah ini mengingatkan kita akan sebuah bangsa yang terombang-ambing antara Timur dan Barat.
Suatu hari aku membaca sebuah buku, dan seluruh hidupku pun berubah ....
Separuh novel perjalanan, separuh dongeng thriller, The New Life adalah buku yang paling cepat terjual habis dalam sejarah Turki. Menampilkan seluruh kecerdasan dan keluwesan khas Pamuk, novel indah ini mengingatkan kita akan sebuah bangsa yang terombang-ambing antara Timur dan Barat.
Suatu hari aku membaca sebuah buku, dan seluruh hidupku pun berubah ....
Label:
Antologi Puisi
D T Ibu
Demi,
Ucapan terima kasihku, padamu sang Ibu
Terima kasih telah memeberiku ruang untuk bertarung.
_______________________
Malang, 03 Februari 2011
Ucapan terima kasihku, padamu sang Ibu
Terima kasih telah memeberiku ruang untuk bertarung.
_______________________
Malang, 03 Februari 2011
Label:
Antologi Puisi
Lirih
Malam....
Sungguh menjadi saksi bisu diatas segala kegalauanku.
Menjadi penetrasi bait-bait syairku yang lirih.
Menutupi segala kesengsaraanku yang pedih.
Amat sangat aku berkata ini.
Bintang berjatuhan, ingatku hanyalah moment amoure.
Yang selalu menjadi dewi-dewi dalam kasus percintaan.
Pikirku hanyalah hayalan tak jelas belaka.
Yang selalu teragungi melebihi sebuah kenyataan yang ada.
____________________________
Kalisat, 13 september 2010...
Gubukku/1,618
Sungguh menjadi saksi bisu diatas segala kegalauanku.
Menjadi penetrasi bait-bait syairku yang lirih.
Menutupi segala kesengsaraanku yang pedih.
Amat sangat aku berkata ini.
Bintang berjatuhan, ingatku hanyalah moment amoure.
Yang selalu menjadi dewi-dewi dalam kasus percintaan.
Pikirku hanyalah hayalan tak jelas belaka.
Yang selalu teragungi melebihi sebuah kenyataan yang ada.
____________________________
Kalisat, 13 september 2010...
Gubukku/1,618
Label:
Antologi Puisi
Titik terhenyak
Hei, Kamu yang berada dalam naungan diriku
Janganlah kau terus cabik-cabik kebenaran ini
Kau sudah terlalu sering Memperkosa Idealismeku
Dengan 1001 kata manismu.
Janganlah kau terus cabik-cabik kebenaran ini
Kau sudah terlalu sering Memperkosa Idealismeku
Dengan 1001 kata manismu.
Label:
Resensi Buku
Penulis : Richard E. Rubenstein.
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta.
Ukuran : 13 x 20 cm
Halaman : 524 / HVS
ISBN : 978-979-16xxx
___________________________________________
Dua Mazhab Haluan
Penulis : Richard E. Rubenstein.
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta.
Ukuran : 13 x 20 cm
Halaman : 524 / HVS
ISBN : 978-979-16xxx
___________________________________________
Label:
Resensi Buku
Max Havelaar - Hati yang penuh dengan Curahan
- Judul Asli : Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi (Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda)
- Penulis : Multatuli
- Penerjemah : H. B, Jassin
- Penerbit : DJAMBATAN, Cetakan ketujuh 1991 ISBN: 979 428 159 X
Awalnya, Pada waktu kelas Tiga SMA saya ditawari baca buku ini oleh kakak saya. Yaa, saya terima saja tanpa pikir panjang. Tapi, lama - kelamaan saya baca buku ini semakin saya tak mengerti apa yang ada didalamnya, terpaksa saya kembalikan lagi buku itu pada kakak, ditambah dengan baru awal saya suka baca buku. Pas, waktu saya menginjak Pendidikan tingkat Universitas, Alhamdulillah saya bisa melahap buku ini, walau tak sepenuhnya mengerti, Hwahaha...!!,
Label:
Antologi Puisi
Selamat Tahun Baru Masehi 2011
Selamat Tahun Baru Masehi 2011
Semoga Perbendaharaan kata dan buku yang kita baca semakin hari semakin meningkat.
Dalam naungan Idealisme Pikiran dan Otak.
Semoga, tanpa Amien akan menjadi sebuah dialektika.
Jangan pula kau tersenyum atas Pencapaian diri,
Itu hanyalah merupakan kebobrokan semata.
Jember, 01 Januari 2011
Alfaqier 93
Langganan:
Komentar (Atom)














